Kamis, 27 Januari 2011

Antara Margo City dan Botani Square


(a) (b)
Botani Square (a), Margo City (b)

Margo City dan Botani Square, dua pusat perbelanjaan atau sering disebut dengan mall yang sangat terkenal di masing-masing kotanya. Margo City di Kota Depok dan Botani Square di Kota Bogor.

Siapa sih yang nggak tahu sama Margo City jika berada di Depok? atau kalau mau jalan-jalan ke Bogor, tanya mall yang paling nge-hits (bahasa sekarangnya) sama orang-orang Bogor terutama anak mudanya, mungkin sebagian besar akan menjawab Botani Square.

Sama-sama mall dan sama-sama terkenal. WOW...!!!

Kedua mall ini sama-sama dibangun di kawasan perkotaan yang sedang berkembang dan sama-sama memiliki letak yang strategis. Margo City bertempat di Jalan Margonda yang merupakan akses utama ke Kota Depok, lain halnya dengan Botani Square yang berlokasi dekat dengan pintu masuk/keluar tol Bogor, terminal Bogor, dll.

Namun, keterkenalan dari kedua mall tersebut bukan dikarenakan hanya mall tersebut yang ada di masing-masing kotanya. Kedua mall tersebut termasuk baru jika dibandingkan dengan mall/pusat perbelanjaan lainnya yang sudah terlebih dahulu mengisi masing-masing kotanya. Namun, semenjak pengoperasiannya dibuka pada tahun 2006, kedua mall tersebut makin terkenal hingga sekarang (2011), dengan dan karena keunggulannya masing-masing.

Nah, walaupun sama-sama mall, belum tentu sama semua sampai kedalam-dalamnya, dari lokasi saja sudah berbeda, pasti ada hal lainnya yang berbeda, yang mungkin menjadi kekurangan dan kelebihannya tersendiri.

Segi Fasade

(a) (b)

Fasade Margo City (a), Fasade Botani Square (b)

Dilihat dari segi fasade, keduanya memiliki bentuk massa yang sama, yaitu kotak. Dan juga warna yang hampir sama, dengan warna dasar orange, Margo City memilih warna orange tua untuk warna dasarnya, dan Botani Square didominasi dengan wana orange muda. Namun, untuk desain fasade yang lebih menarik, saya cenderung lebih menyukai fasade Margo City dibandingkan fasade Botani Square.

Jika Botani Square hanya memainkan bentuk massa kotak, lain halnya dengan Margo City. Walaupun sama-sama berbentuk dasar kotak ataupun persegi panjang, Margo City memberikan sentuhan estetik pada fasade-nya, yaitu pada bentuk sclupture atau Crown (saya biasa menyebutnya “ice cream cone”-nya Margo..hehe) pada bagian tengah bangunannya. Crown tersebut sampai saat ini menjadi icon tersendiri dari Margo City, dan salah satu icon baru di Kota Depok. Namun, Botani Square sendiri juga menjadi salah satu icon mall yang asyik buat hang-out di Bogor.

Crown pada Margo City

Segi Landscape / Open Space

Area parkir Botani Square

Dari pertama kali saya menginjakkan kaki di kedua mall ini, saya sudah kagum dengan penerapan landscape-nya. Tidak seperti mall-mall lainnya, kedua mall ini memiliki open space yang luas, yang sebagian besar difungsikan untuk area parkir, berbeda dengan kebanyakan mall saat ini yang lebih mengutamakan parkir di dalam bangunan. Dengan Margo City yang memiliki luas area sekita 7,5 Ha dan Botani yang berdiri pada lahan sekitar 4,2 Ha.

Pada Botani Square, area parkir mobil bagian luar (karena ada area parkir mobil di dalam/basement bangunan) terlihat dan terasa sejuk dengan adanya pohon-pohon yang menaungi di sekitar areanya. Karena pembagian area parkir yang berada di luar dan dalam bangunan, untuk parkir di luar jarak antara bangunan mall (pintu masuk) dengan area parkir tidak begitu jauh.

Open Space pada Margo City

Area O-Zone pada Margo City

Pada Margo City, sebagian besar open space-nya juga digunakan sebagai area parkir (untuk mobil dan motor), yang terdapat di depan (mobil dan motor) dan belakang mall (mobil), yang berkapasitas sampai 1.200 mobil, karena mall ini tidak memiliki parkir di dalam bangunan. Dan open space disebut dengan O-zone, yaitu sebuah area outdoor dengan kelengkapan fasiltas olahraga (trampolin, basket, futsal, jogging track, skatboard area) dan fasilitas lainnya. Penataan pola landscapenya pun terlihat menarik, dengan menggunakan jenis dan warna berbeda pada penataan tamannya, dan menggunakan pola tertentu pada paving block-nya. Pengunjung juga dapat menikmati keindahan dari landscape, jika berjalan pada pedestrian yang telah disediakan.

Segi Ruangan/Indoor

Namanya juga mall ya, di dalamnya pasti terdapat beragam toko ataupun restaurant. Sama halnya pada kedua mall ini.

Pada Botani Square, pembagian zona ruang-ruangnya dibagi berdasarkan lantainya, misalnya saja pada lantai basement dapat ditemukan area parkir, dan toko-toko yang didominasi toko alat-alat rumah tangga, juga terdapat area bermain anak dan keluarga; pada lantai Ground Floor didominasi toko-toko penjualan makanan, seperti JCo, BreadTalk, Mister Baso, dll, juga terdapat Giant sebagai tempat berbelanja keperluan rumah tangga, juga beberapa toko elektronik; Lantai 1 didominasi denga toko-toko pakaian; dan lantai teratas didominasi dengan area hiburan, seperti food court, bioskop, fitness centre, tempat karaoke, toko pernak-pernik, dll.

Suasana ruang-ruang yang terdapat pada Botani Square ditiap lantainya

Jika pembagian zona pada Botani bedasarkan lantainya, pada Margo City dibagi menjadi 3 zona, yaitu Margo Zone, City Zone, dan O-Zone. Untuk area dalam bangunan terdiri dari Margo Zone dan City Zone, yang dipisahkan oleh Square/Plaza pada bagian tengahnya yang berbentuk lingkaran (Nama lengkap Margo City, yaitu Margo City Square). Margo Zone adalah area Food & Beverage dengan rangkaian kafe, restoran, patisserie and bakery, serta Food Court. City Zone merupakan area retail fashion dan life style yang menampilkan beragam kapasitas dan brand dari dalam dan luar negeri. Jika kita memasuki bangunan Margo City, Margo Zone terdapat pada bagian kanan dan City Zone terdapat pada bagian kiri.

Pada gambar ditunjukkan warna orange untuk area Margo Zone dan biru untuk area City Zone

(ki-ka) gambar 1,2 Margo Zone; 3 City Zone; 4 Hall


Sumber :

Google images

http://www.flickr.com

http://www.margocity.com

http://www.skyscrapercity.com

http://widianto.mukhodim.com

http://alvaroferanov.blogspot.com/2010/11/analisis-bangunan-publik-di-depok.html

http://rafinda-ega.blogspot.com/

SEJARAH MALL

Apa yang terlintas dipikiran kita jika mendengar kata Mall atau .... (baca: blablabla) Square, pasti ujung-ujungnya berpikiran tentang suatu tempat atau pusat perbelanjaan. Namun, apa sebenarnya maksud dari istilah Mall atau Square, ataupun City yand digunakan beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota besar, yang belakangan ini mulai menjamuri kawasan perkotaan, apa benar maksudnya merujuk pada suatu kawasan perbelanjaan?

Berikut ini saya akan coba menjelaskan secara singkat mengenai istilah Mall, Square, ataupun City.

The Mall, Inggris

Mal adalah kata serapan dari bahasa Inggris “Mall” yang diterjemahkan menjadi gedung atau kelompok gedung yg berisi macam-macam toko dengan dihubungkan oleh lorong/koridor (jalan penghubung). Dalam bahasa aslinya arti Mall mirip dengan pengertian Mal dalam bahasa Indonesia.

Istilah Mall berangkat dari nama The Mall (1674) di Inggris. The Mall adalah jalanan yang menghubungkan Istana Buckingham, Admiralty Arch, Trafalgar Square, St. James' Park, St. James' Palace, Green Park dan House Guards Parades. The Mall dalam abad ke -20 merupakan jalan yang biasa digunakan dalam acara-acara seremonial kerajaan sebagai rute untuk melakukan parade. The Mall dibentuk sedemikian rupa agar pejalan kaki dapat berjalan dengan aman dan nyaman (promenade) dibawah naungan pepohonan.

Istilah Mall kemudian digunakan untuk suatu kawasan belanja yang terdapat dalam suatu gedung/kompleks yang dinaungi oleh atap. Sejarah Mall dimulai pada abad ke-7 di ibukota Syria, yaitu Damaskus. Kawasan dagang ini dikenal dengan nama Al-Hamidiyah Souq. Souq dalam bahasa Arab berarti kawasan dagang yang umum terdapat di kota-kota Timur tengah/Arab atau kota-kota yang penduduknya beragama Islam.

Al-Hamidiyah, Damaskus

Pertumbuhan mal semakin marak terutama di kota-kota besar di wilayah Eropa dan Amerika. Tahun 1828, public Amerika dikenalkan dengan sistem retail mall dengan dibangunnya The Arcade di Providence, Rhode Island. Sejak saat itu mulai Amerika membangun mal dengan gaya mereka sendiri. Tahun 1916 dibangun Market Square di Lake Forest, Illinois dan tahun 1924 dibangun Country Club Plaza di Kansas City, Missouri. Amerika pasca PD II mengalami tingkat pertumbuhan mal yang cukup tinggi, dipacu dengan munculnya kaum suburb (pinggiran) dan meningkatnya produksi kendaraan. Akhirnya tidak hanya pusat kota yang memiliki mal namun daerah pinggiran/tepian kota pun mulai marak dengan pembangunan mal.

Saat ini mal murni memiliki konotasi sebagai pusat perbelanjaan atau shopping centre dalam arti umum. Mal juga identik dengan pola gaya hidup mewah dan berkelas. Seiring dengan perkembangan jaman dan untuk lebih banyak menggaet lapisan masyarakat datang ke mal maka mal terdiri dari beberapa macam yaitu:

- Community mall, biasanya terdapat di sebuah distrik atau kawasan permukiman tertentu dengan tujuan untuk melayani masyarakat di sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan baik selaku pusat belanja.

- City mall, biasanya jauh lebih besar dibanding community mall, karena bertugas untuk melayani aktivitas masyarakat di kota (pinggiran) dengan wilayah-wilayah pemukiman yang tersebar.

- Regional mall, jauh lebih besar dari city mall dan menjadi semacam ikon (trademark) dari suatu kota (pusat). Daya tarik dari trademark ini sedemikian kuatnya sehingga orang luar yang berkunjung seolah-olah memiliki kewajiban untuk mengunjungi regional mall dari kota yang bersangkutan.

- Terdapat pula mal khusus dengan tujuan yang spesifik seperti entertainment mall dan leisure mall. Mall jenis ini umumnya lebih mengedepankan fasilitas hiburan dibanding dengan fasilitas belanjanya.

Selain mall, fasilitas gedung kawasan belanja kadang disebut plasa (asal kata dari bahasa Spanyol, plaza) dan square (asal kata dari bahasa Inggris). Baik plasa maupun square sebetulnya merujuk pada suatu lapangan terbuka yang ditujukan bagi masyakarakat untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti halnya kita mengenal istilah alun-alun.

Konsep plasa dan square ini dikombinasikan dengan konsep mal, sehingga menjadi kawasan belanja dalam gedung dengan lahan tengah (square/plaza) cukup luas untuk menampung berbagai kegiatan-kegiatan non reguler misalnya fashion show atau pameran mainan anak-anak. Salah satu mal dengan konsep leisure (hiburan ringan) mal adalah Cilandak Town Square atau kerap disebut Citos.

Untuk informasi selengkapnya mengenai sejarah mall silahkan kunjungi alamat ini :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150258803485150
http://blogjoss-ridwan.blogspot.com/2010/10/asal-usul-mal.html

Rabu, 26 Januari 2011

BOTANI SQUARE BOGOR


Botani Square merupakan salah satu mall terbesar dengan besar luas area yang disewakan, yaitu 42.000 m2 dan terlengkap di kota Bogor, karena di dalamya terdapat IPB International Convention Centre (IICC) dan Hotel Santika. Botani Square ini sendiri juga dike
nal sebagai pusat perbelanjaan yang peduli & ramah lingkungan, yang rimbun penghijauan.

Botani Square terletak di posisi strategis yaitu di pusat Kota Bogor, samping pintu masuk tol Bogor, dan tepat di depan Tugu Kujang, juga dekan dengan terminal Baranang Siang. Botani Square saat ini telah menjadi tujuan seluruh masyarakat Bogor dengan traffic pengunjung rata-rata 30.000 per-hari.

Dari segi fasade, Botani Square yang sering disebut juga dengan Boquer, tidak begitu berbeda dengan mall-mall lainnya, yang mengambil bentuk dasar kotak. Bentuk kotak diyakini sampai sekarang sebagai bentuk yang paling fungsional dalam pemanfaatan pembentukan ruang-ruangnya, sehingga diharapkan tidak terdapat ruang sisa.

Bentuk fasade dari Boquer ini juga menyatu dengan bentukan dari Hotel Santika yang jika dilihat dari pintu masuk utama, terletak berada di belakang bangunan Boquer dengan bentukan persegi panjang yang tegak. Hotel Santika ini juga dapat terlihat dari arah pintu keluar/masuk tol Bogor.

Bentuk fasade dari Boquer dibuat atraktif dengan penggunaan warna-warna yang cerah, seperti orange. Berbeda dengan Hotel Santika yang didominasi warna agak muda, yaitu cream. Sehingga dapat terlihat mana perbedaan, antara bangunan hotel dan mall-nya.

Saat menginjakkan kaki (2010) di Mall yang beroperasi pada tahun 2006 ini, terlihat cukup banyak tumbuhan yang mengelilingi area Boquer, terutama di area parkir mobilnya. Mungkin karena mengusung nama “botani”, area penghijauan pun juga sangat diperhatikan.

(a) (b)

(a)Kondisi Boquer awal pembukaan, (b) Kondisi Boquer saat ini

Setelah memasuki bangunannya, di pintu utamanya terdapat dekorasi tema dari mall tersebut., sesuai bulannya. Melalui pintu utama, kita akan melihat lorong besar yang di kanan-kiri nya terdapat toko-toko, saat itu di tengah lorong tersebut juga terdapat kios-kios seperti butik yang didominasi penjualan baju batik.

Dari lorong tersebut, kita akan dibawa ke tengah ruangan, yang terdapat void (jika melalui salah satu pintu samping dari bangunan, kita akan langsung menemukan letak void tersebut). Dari void tersebut, kita dapat melihat lantai Under Ground dari Boquer.

Jika dilihat dari namanya, yaitu Botani Square, penggunaan kata “square” pada mall tersebut mungkin juga merujuk pada suatu lahan yang cukup luas di tengah bangunan untuk menampung kegiatan (non-reguler) pada bangunan tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (dalam postingan Sejarah Mall). Yang menyatakan:

"...fasilitas gedung kawasan belanja kadang disebut plasa (asal kata dari bahasa Spanyol, plaza) dan square (asal kata dari bahasa Inggris). Baik plasa maupun square sebetulnya merujuk pada suatu lapangan terbuka yang ditujukan bagi masyakarakat untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti halnya kita mengenal istilah alun-alun. Konsep plasa dan square ini dikombinasikan dengan konsep mal, sehingga menjadi kawasan belanja dalam gedung dengan lahan tengah (square/plaza) cukup luas untuk menampung berbagai kegiatan-kegiatan non reguler misalnya fashion show atau pameran mainan anak-anak."

Begitu juga yang terdapat pada bangunan Boquer, dari void pada Ground Floor, square itu dapat terlihat. Dan difungsikan sesuai dari tema kegiatan yang dilakukan setiap bulannya. Saat saya ke Boquer, square tersebut dijadikan tempat untuk penjualan baju atau sepatu, dan asesoris wanita lainnya, seperti butik kecil (seperti yang terdapat di dekat pintu utama).

Penggunaan "square" pada Boquer

Di lantai basement juga dapat ditemukan area parkir, dan toko-toko yang didominasi toko yang menjual alat-alat rumah tangga, juga terdapat area bermain anak dan keluarga. Untuk Ground Floor-nya didominasi toko-toko penjualan makanan, seperti JCo, BreadTalk, Mister Baso, dll, juga terdapat Giant sebagai tempat berbelanja keperluan rumah tangga, juga beberapa toko elektronik. Naik ke lantai selanjutnya, didominasi dengan toko yang menjual garmen/pakaian. Dan di lantai paling atas juga terdapat toko makanan, food court, toko asesoris, dan tempat hiburan lainnya, seperti fitness centre, bioskop, dll. Setiap lantai terdapat fungsi utamanya tersendiri.

...(1)

...(2)

...(3)

(1) Kondisi basement, (2) Kondisi ground floor, (3) Kondisi top floor

Karena Boquer termasuk salah satu mall terbesar di kota Bogor yang juga didukung dengan akses yang baik, maka tidak heran saya melihat berbagai macam pengunjung yang terdapat di mall tersebut. Pada tahun 2010, (tanggal 24 Desember, malam hari) keadaan Boquer ramai sekali, di setiap sudut hampir bisa ditemui keramaian. Mungkin karena bertepatan dengan liburan dan malam Natal, sehingga banyak pengunjung yang meluangkan waktu ke Boquer, yang saat itu didominasi oleh pengunjung yang datang bersama keluarga ataupun teman-temannya. Tahun 2011 pun, (10 Januari, siang hari), saya disuguhi dengan pemandangan pengunjung yang berbeda, yang lebih didominasi oleh anak sekolah ataupun kuliah, karena waktu itu juga awal semester baru.

Jadi, saat ini, fungsi mall tidak hanya sebagai tempat/pusat berbelanja, melainkan sudah lebih meluas, menjadi tempat untuk hang-out, refreshing, hiburan, berkumpul, dll, sebagaimana yang dapat terlihat di Botani Square Bogor.